Jasa Penulisan Makalah - Dalam sebuah disiplin ilmu komunikasi, ada banyak metode yang digunakan untuk menganalisis media, salah satunya adalah analisis framing. Selain itu juga ada analisis isi dan analisis semiotik. Prinsip sederhana dari analisis framing adalah sebuah metode analisis yang digunakan untuk mengetahui bagaimana sudut pandang atau perpektif yang digunakan oleh wartawan atau media massa ketika menyeleksi isu berita dan menuliskannya menjadi berita.
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Kajian komunikasi politik bersifat spesifik, karena
materi bahasan terarah kepada topik tertentu yaitu politik dan aspek-aspek yang
tercakup di dalamnya.Secara filosofis kajian komunikasi politik adalah hakikat kehidupan
manusia untuk mempertahankan hidup dalam lingkup berbangsa dan bernegara.Perkembangan komunikasi politik
sendiri dalam kajian ilmiah ditandai salah satunya oleh munculnya aneka
pendekatan teoritik serta metode penelitian. Pendekatan teoritik dipengaruhi
oleh disiplin ilmu komunikasi, dan sebagian lain dipengaruhi oleh disiplin ilmu
lain seperti sosiologi, antropologi, psikologi, ilmu politik, ilmu ekonomi, dan
bahasa dan sastra. Pendekatan – pendekatan teoritik yang ada dalam kajian
komunikasi politik antara lain pendekatan fungsional, pendekatan bahasa,
pendekatan lingkungan, pendekatan organisasional, pendekatan uses and
gratification, pendekatan kontruktivisme, dll.
![]() |
Analisis Framing |
Salah satu pendekatan yang akan
kami bahas kali ini adalah pendekatanframing yang merupakan salah satu
alternatif model analisis yang dapat mengungkap rahasia dibalik sebuah
perbedaaan bahkan pertentangan media dalam mengungkapkan fakta. Pendekatanframing
dipakai untuk mengetahui bagaimana realitas dibingkai oleh media.Dengan
demikian realitas sosial dipahami, dimaknai, dan dikonstruksi dengan bentukan
dan makna tertentu.Setiap media memilki cirinya
tersendiri dalam memberitakan suatu peristiwa, dalam menyajikan berita yang
akan disampaikan kepada khalayak tentunya harus mematuhi kebijakan-kebijakan
yang telah ditetapkan oleh keredaksian yang tentunya dapat membatasi kebebasan
wartawan danlam menuliskan dan menyampaikan berita.
Kebijaksanaaan
redaksional tersebut menjadi pedoman dan ukuran dalam menentukan kjadian macam
apa yang patut diangkat serta dipilih untuk menjadi berita maupun bahan
komentar.Selain kebijakan redaksional yang dapat menentukan ciri pemberitaan
suatu media, adanya kepentingan juga menjadi salah satu factor yang sangat
menentukan bagaimana suatu media membahas suatu berita tertentu.
Kepentingan tersebut dapat dilihat
dengan menganalisis secara detail berita yang disajikan, apakah membela
kepentingan pemerintah, kepentingan pemilik modal ataukah kepentingan rakyat.
Pemberitaan media inilah yang mempengaruhi komunikasi politik, bagaimana
pengemasan berita oleh media dapat mempengaruhi situasi politik, pandangan
politik, partisipasi politik dsb yang dibahas dalam pendekatan framing.Analisis framing adalah suatu pendekatan analisis untuk melihat bagaimana
realitas itu dibentuk dan dikonstruksi oleh media, realitas yang disajikan
secara menonjol atau menarik mempunyai peluang besar untuk diperhatikan dan
mempengaruhi khalayak dalam memahami realitas. Karena itu dalam praktiknya, framing dijalankan oleh media dengan
menyeleksi isu tertentu dan mengabaikan isu lain, serta menonjolkan aspek isu
tersebut dengan menggunakan berbagai strategi wacana.[1]
Perbedaan framing suatu berita oleh
setiap media, mengungkapkan siapa
menendalikan siapa, siapa lawan siapa, mana kawan mana lawan, mana patron dan
mana klien, siapa diuntungkan dan siapa dirugikan, siapa menindas dan siapa
tertindas, dst. Kesimpulan-kesimpulan seperti ini sangat mungkin diperoleh
karena analisis framing merupakan suatu seni-kreativitas yang memiliki
kebebasan dalam menafsirkan realitas dengan menggunakan teori dan metodologi
tertentu.Ada dua esensi utama dari analisis framing yaitu, Pertama,
bagaimana peristiwa dimaknai.Ini berhubungan dengan bagian mana yang diliput
dan mana yang tidak diliput.Kedua, bagaimana fakta ditulis.Aspek ini
berhubungan dengan pemakaian kata, kalimat, dan gambar untuk mendukung gagasan.
B.
Perumusan Masalah
Pendekatan framing dalam komunikasi
politik memiliki konteks tentang pemberitaan media massa, pada makalah ini akan
dibahas mengenai :
1. Bagaimana pendekatan framing dalam
komunikasi politik?
2. Pengaruh media framing terhadap individual
audience framing ?
3. Contoh kasus pendekatan framing dalam komunikasi
politik Indonesia !
C.
Tujuan
Untuk mengetahui dan memahami factor
apa saja yang dapat mempengaruhi framing suatu media dan dampaknya terhadap
komunikasi politik, agar dapat dilakukan analisa pada kasus-kasus tertentu.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pendekatan Framing
Komunikasi pada dasarnya adalah
aktifitas atau proses dalam menyampaikan pesan dari komunikator kepada
komunikan dengan menggunakan saluran tertentu untuk tujuan tertentu yang bisa
memunculkan efek dan juga feed back.
Komunikasi sebagai sebuah ilmu mencoba memahami komunikasi melalui teori-teori
yang diuji untuk menjelaskan fenomena yang terkait dengan produksi, pengolahan
dan efek.[2]
Baca juga: Efek-efek Komunikasi Sosial.
Baca juga: Efek-efek Komunikasi Sosial.
Komunikasi juga melakukan kajian
terhadap proses komunikasi baik di dalam percakapan informal, interaksi
kelompok, atau komunikasi massa.[3]Komunikasi
massa pada awalnya masih berbentuk lisan berupa kemampuan retorika seperti
dikemukakan Aristoteles dan kemudian semakin berkembang ketika muncul
jurnalisme. Jurnalisme inilah yang kemudian menjadi cikal bakal konsep media
massa sebagai cara menyampaikan pesan kepada khalayak.
Secara umum, metode analisis framing dapat diartikan sebagai suatu
metode untuk memahami bagaimana realitas dibingkai oleh media, framing merupakan strategi konstruksi
dan simplifikasi realitas sedemikian rupa untuk ditampilkan kepada
pembaca.Peristiwa-peristiwa diatur sedemikian rupa dalam pemberitaan agar
tampak menonjol dan menarik perhatian khalayak pembaca. Anggapan dasar analisis
framing ialah bahwa realitas sosial
bukalah sesuatu yang terjadi secara taken
for granted, melainkan sesuatu yang dimaknai dan dikonstruksi dengan fakta
tertentu. Fokus pembahasan analisis framing
terletak pada bagaimana cara media untuk memahami realitas dan mengkonstruksi
makna-makna realitas, serta bagaimana cara media menyajikan realiya tersebut
sebagai sebuah pemberitaan di media.
Istilah framing disini cenderung banyak dipakai untuk menunjuk
gejala-gejala yang kendatipun sama atau mirip namun dilihat dari sudut pandang
yang berbeda-beda. Misalnya : Wicks (1992) menggunakan istilah framing untuk menunjuk kategori-kategori
kognisi yang ada pada khalayak, Hamili
dan Lodge (1986) memahami framing
mirip dengan yang sering dikonsepkan dengan frame,
script atau schema. Iyengar dan Kinder (1987) menggunakan istilah ini sama
dengan istilah agenda setting dan priming. Belakangan McCombs, Shaw dan
Weaver (1997) mengatakan bahwa tidak saja agenda
setting dan framing, sebagai
pengaruh media, yang memiliki keterkaitan tetapi framing sebenarnya merupakan
kelanjutan dari agenda setting.
Itulah mengapa Scheufele mengamati bahwa penelitian mengenai framing sering
kali ditandai oleh ketidakjelasan teoritik dan empirik, disebabkan karena
kurangnya kesepakatan mengenai model teoritik serta terbatasnya alat-alat dan
hasil-hasil penelitian yang dapat saling diperbandingkan.[4]
Framing
atau pembingkaian yang dilakukan media pada dasarnya merujuk pada empat elemen,
yaitu proses pendefinisian realita atau permasalahan, penjelasan sebab
permasalahan, penilaian dan evaluasi terhadap masalah serta perumusan
rekomendasi solusi atas permasalahan tersebut. Berikut penjelasannya :
1. Identifikasi Masalah atau Define Problem
Merupakan elemen yang menjadi master frame atau bingkai yang paling utama.Dalam
elemen ini, analisis dilakukan untuk mengetahui definisi masalah oleh media.
Media menggambarkan realita tersebut sebagai masalah apa, merupakan pertanyaan
utama yang harus dijawab dalam elemen ini.
2. Penjelasan Sebab Permasalahan atau Diagnose Causes
Bertujuan untuk mengetahui bagaimana
sebuah media menggambarkan penyebab masalah, baik itu actor penyebab atau
peristiwa penyebab.
3. Penilaian dan Evaluasi atau Moral Judgement
Merupakan elemen framing yang dipakai untuk membenarkan atau memberikan argument
atas pendefinisian masalah dan perumusan sebab yang telah dibuat.
4. Rekomendasi Solusi atau Treatment Recommendation
Menekankan pada rekomendasi
penyelesaian masalah yang diberikan media, elemen ini berusaha mengetahui
solusi apa dan bagaimana yang seharusnya diselesaikan.
Analisis framing dipakai
untuk membedah cara-cara atau ideologi media saat mengkonstruksi fakta.Oleh
karena itu, berita menjadi manipulatif dan bertujuan mendominasi keberadaan
subjek sebagai sesuatu yang legitimate, objektif, alamiah, wajar, dan
tak terelakkan.
B.
Konteks Pendekatan Framing
dalam Komunikasi Politik
Framing
menurut Entman memiliki implikasi penting bagi komunikasi politik.Frames menurutnya, menuntut perhatian
terhadap beberapa aspek dari realitas dengan mengabaikan elemen-elemen lainnya
yang memungkinkan khalayak memiliki reaksi berbeda.Dalam konteks ini, framing memainkan peran utama dalam
medesakkan kekuatan politik dan frame
dalam teks berita sungguh merupakan kekuasaan yang tercetak. Seperti yang
disebutkan sebelumnya, framing merupakan konstruksi realitas yang merupakan
pekerjaan media massa. Isi media massa adalah hasil para pekerja
mengkonstruksikan berbagai realitas yang dipilihnya, diantaranya realitas
politik. Pada umumnya terdapat tiga tindakan yang biasa dilakukan pekerja media
massa khususnya oleh para komunikasi massa apabila melakukan konstruksi
realitas politik yang berujung pada pembentukan makna atau citra mengenai
sebuah kekuatan politik, yaitu :
1. Dalam hal pemilihan kata atau symbol
politik, sekalipun media massa hanya bersifat melaporkan namun telah menjadi
sifat dari pembicaraan politik untuk
selalu memperhitungkan symbol politik. Dalam komunikasi politik para komunikator
bertukat citra-citra atau makna-makna melalui lambang. Mereka saling
menginterpretasikan pesan-pesan atau symbol politik yang diterimanya. Dalam
konteks ini, sekalipun melakukan pengutipan langsung atau menjadikan seorang
komunikator politik sebagai sumber berita dengan pilihan symbol yang digunakan
sumber tersebut. Tetapi manakala media massa membuat ulasan seperti editorial,
pilihan kata itu ditentukan sendiri oleh sang komunikator massa.
2. Dalam melakukan pembingkaian atau framing peristiwa politik. Adanya
tuntutan teknis seperti keterbatasan-keterbatasan kolom dalam halaman, membuat
berita sebuah peristiwa ditampilkan secara utuh. Atas nama kaidah jurnalistik,
peristiwa yang panjang, lebar, rumit dicoba disederhanakan melalui pembingkaian
atau framing fakta-fakta dalam bentuk berita sehingga layak terbit atau layak
tayang. Untuk kepentingan pemberitaan ini, komunikator massa seringkali hanya
menyoroti hal-hal penting dari sebuah peristiwa politik. Dari segi ini saja
mulai terlihat ke arah mana pembentukan atau formasi sebuah berita. Ditambah
pula dengan berbagai kepentingan, maka konstruksi realitas politik sangat
ditentukam oleh siapa yang memiliki kepentingan (menarik keuntungan atau pihak
mana yang diuntungkan) dengan berita tersebut.
3. Jika media menyediakan ruang atau waktu
untuk sebuah peristiwa politik maka peristiwa itu akan memperoleh perhatian
dari masyarakat. Semakin besar tempat yang diberikan maka semakin besar pula
perhatian yang diberikan oleh khalayak. Pada konteks ini media massa memili
fungsi agenda setter sebagaimana yang
dikenal dengan teori agenda setting. Tessis utama teori ini adalah besarnya
perhatian masyarakat terhadap sebuah isu amat tergantung pada seberapa besar
media apalagi sejumlah media, menaruh sebuah kasus sebagai headline. Diasumsikan bahwa kasus itu pasti memperoleh perhatian
yang besar dari khalayak. Ini tentu berbeda jika misalnya, kasus tersebut
dimuat dihalaman dalam bahkan dipojok bawah pula. Faktanya, konsumen media
jarang memperbincangkan kasus yang tidak dimuat oleh media, yang boleh jadi
kasus itu justru yang sangat penting untuk masyarakat.
Baca juga: Legal Opinion Pendapat Umum.
C.
Media Framing dan Individual Audience Framing
Gamson
dan Modiglani mendifinisikan media
framing sebagai suatu pokok pengorganisasian gagasan atau pemberitaan yang
memberikan makna terhadap serangkaian peristiwa. Framing berkaitan dengan memberikan isyarat kepada khalayak
mengenai kontroversi apa yang ada serta apa yang menjadi pokok dari isu yang
diberitakan.
Media framing pada dasarnya adalah framing berita yang mencerminkan produk media
sekaligus produk dari para wartawannya ketika harus mengidentifikasi,
mengklarifikasi, dan kemudian menyampaikan informasi dan opini kepada khalayak.
Denga kata lain, media framing pada
hakikatnya merupakan konstruksi atau pendefinisian oleh media mengenai realitas
atau peristiwa – peristiwa yang terjadi dalam masyarakat. Oleh karena itu, media framing mempengaruhi secara
sistematik bagaimana khalayak memahami peristiwa – peristiwa, atau untuk lebih
luasnya adalah realitas.
Entman
menyebut individual frame sebagai
gagasan – gagasan yang tersimpan dalam pemikiran yang dapat membimbing
seseorang dalam memproses informasi. Dalam hubungan ini, gagasan – gagasan (ideas) yang dimaksud bisa bersifat umum
(garis besar) dan menyangkut kurun waktu yang lama, tetapi bisa juga bersifat
spesifik dan menyangkut kurun waktu relatif pendek berkenaan dengan peristiwa –
peristiwa atau isi – isu tertentu.
McLeod
dkk dalam menggunkan istilah individual
framing untuk menunjuk bagaimana individu – individu audience memberikan makna – makna terhadap berita politik. Bagi
mereka individual framing adalah alat
atau cara yang bekerja secara non hierarki yang berfungsi mirip seperti
formulir dengan pokok – pokok persoalan di mana isi pemberitaan apapaun yang
akan datang dapat diterima oleh individu – individu yang dapat diisikan ke
dalamnya.[5]
D.
Contoh Kasus dan Analisa
Dari pengertian diatas yaitu analisis framing adalah peran seorang wartawan
dalam menciptakan, mempersepsi, dan mengkonstruksi sebuah peristiwa berdasarkan
pengamatan dan persepsi pesan yang ingin disampaikan kepada pembacanya. Berikut
contoh kasus pendekatan framing dalam
konteks komunikasi politik :
Pemberitaan Lumpur Lapindo
Berita
ini mulai hangat diperbincangkan sejak kejadian pada tanggal 29 Mei 2006.Saat
itu masyarakat di Kecamatan Porong Kabupaten Sidoarjo dikejutkan oleh bau menyengat
yang tiba-tiba tercium.Setelah diselidiki, ternyata bau tersebut ditimbulkan
oleh kebocoran pipa gas di sumur eksplorasi minyak bumi dan gas (migas) Banjar
Panji- 1(BPJ-1) milik PT. Lapindo
Brantas Inc. Pihak manajemen Lapindo menyebutkan lumpur panas yang menyembur
tersebut akibat gempa bumi yang mengguncang wilayah Yogyakarta pada 27 Mei
2006. Pada tanggal 14 Juni 2006, Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono meminta
Departemen Energi dan BP Migas untuk melakukan investigasi.Hasil investigasi
pada tanggal 19 Juni 2006, menyatakan bahwa semburan lumpur panas tersebut
akibat kesalahan pengeboran.Hasil investigasi tersebut secara otomatis
menggugurkan pernyataan manajemen Lapindo.
Sampai sekarang,
berita ini pun masih muncul di beberapa sudut media massa baik cetak maupun
elektronik. Isinya kebanyakan membahas kelanjutan penanganan penduduk yang
terkena bencana, efek semburan lumpur terhadap alam, dan belum tuntasnya
penyelesaian masalah antara pihak pemerintah, perusahaan terkait, dan
masyarakat. Walaupun sudah ada ganti rugi, namun hal tersebut masih dirasakan
sebagian penduduk tidak sesuai dengan apa yang mereka alami.
Saat
kejadian tersebut, media menunjukkan kejanggalan yang kontras.Independensi
media dipertanyakan saat ini. Ada beberapa media yang getolmembela kepentingan
pemerintah, ada yang membela pemilik modal, ada jugayang berdiri mendukung
kepentingan rakyat, seperti :
a. ANTV
Pada
saat terjadi kasus lumpur Lapindo, perusahaan media massa ini masih dikuasai
oleh Keluarga Bakrie. Secara tidak langsung pemberitaan ANTV cenderung membela
kepentingan keluarga Bakrie.Pembelaan tersebut juga memberikan efek terhadap
pemerintahan, dimana Abu Rizal Bakrie sampai saat ini masih menduduki jabatan
Menteri Kesejahteraan Rakyat.Bahkan, ANTV juga menukar istilah Lumpur Lapindo
dengan Lumpur Sidoarjo.Sebuah framming berita yang sangat bagus untuk
mengelakkan kesalahan Lapindo saat itu.
b. TVONE
Pembingkaian berita di TVOne membingkai
kasus ini sebagai bencana alam dan didalam semua pemberitaan tentang lumpur
Lapindo TVOne tidak pernah memberitakan dengan pemberitaan mengenai lumpur
Lapindo tetapi TVOne memberitakan kejadian ini yaitu bukan lumpur Lapindo
tetapi lumpur Sidoarjo. Seolah-olah tidak menyebutkan nama Lapindo sebagai
topic pemberitaan dikarenakan TVOne adalah stasiun televisi milik seorang
pengusaha Aburizal Bakrie dan kebetulan Lapindo adalah anak perusahaan dari
grup Bakrie. Contoh dari headline beritanya adalah “Lumpur Sidoarjo Bukan
Karena Pengeboran”, “Lumpur Sidoarjo akibat Rangkaian Gempa”, “Lapindo Siap
Bayar Ganti Rugi Rp. 150 Miliar” dan lain - lain. Dilihat dari judul
diatas bagaimana media televisi TVOne membingkai berita tersebut dan
disampaikan ke pemirsa seluruh Indonesia bahwa kejadian lumpur Lapindo ini
adalah murni karena bencana alam dan tidak ada hubungannya dengan pengeboran
yang dilakukan oleh PT Lapindo.
c. MetroTV
Pemberitaan tentang lumpur Lapindo
menjadi topik
terhangat dalam liputannya.Didalam MetroTV lebih topik pemberitaan cenderung
memberitakan PT Lapindo yang bersalah, dan pemberitaan - pemberitaan murni
berhubungan dengan kesengsaraan masyarakat korban lumpur Lapindo. Adapun salah
satu contoh headlinenya adalah “Cicilan Ganti Rugi Korban Lapindo
Tersendat”, “Korban Lumpur Lapindo Sedot Rp. 43 Triliun Uang Rakyat”,
“Pembayaran Ganti Rugi Korban Lumpur Lapindo Molor Lagi” Dilihat dari judul
tadi bagaimana media televisi MetroTV sebagai media partner dari surat kabar
Media Indonesia. Membingkai kasus ini sebagai kasus yang kriminal dan
perusahaan yang menyengsarakan rakyat yaitu PT. Lapindo harus diusut tuntas ke
meja hukum.
E. Analisis Kasus dari Pendekatan Framing Komunikasi Politik
Dalam perkembangannya media massa tumbuh menjadi industri. Terdapat pasar
yang cukup besar dalam industri media. Terlebih saat ini yang dinyatakan
sebagai the information age, kebutuhan masyarakat akan informasi cukup
tinggi. Industrialisme media memunculkan sistem kapitalisme. Kapitalisme media ditandai
dengan munculnya industri kebudayaan di Amerika. Hal ini kemudian dikembangkan
oleh Adorno dan Hokhaimer yang mengungkap tentang apa yang disebut ”industri
kebudayaan” yang merupakan sebutan untuk industrialisasi dan komersialisasi
budaya di bawah hubungan produksi kapitalis.[6]Masa ini ditandai dengan:
a.
Dijadikannya informasi
sebagai komoditas
b.
Munculnya media baru dan
terjadi penggabungan media
c.
Berpengaruhnya ekonomi dan
pasar.
Menurut
Denis McQuail, sistem kapitalis ini muncul karena institusi media tidak bisa
dilepaskan dengan industri pasar karena adanya ketergantungan pada imbalan
kerja, teknologi dan kebutuhan pembiayaan. Selain itu, media meskipun tidak
mempunyai kekuasaan namun institusi media selalu berkaitan dengan kekuasaan
negara karena adanya kesinambungan pemakaian media dengan mekanisme hukum.[7]
Sebagai
institusi kapitalis, media lebih berorientasi pada keuntungan dan upaya untuk
mengakumulasikan modal. Akibatnya, media massa berkompetisi meyajikan produk
informasi yang memiliki keunggulan pasar antara lain informasi politik dan
ekonomi. Ketika modal mengepung media massa, kalangan industri media massa
lebih menyerupai “pedagang”, mengendalikan pers dengan memanfaatkan kepemilikan
saham atau modal untuk mengontrol isi media atau mengancam institusi media yang
“nakal”.
Kondisi ini terjadi karena tekanan ekonomi kepada
media.Akibatnya, terjadi pertarungan idiologi di dalam institusi media itu
sendiri.Media berada di persimpangan antara memihak kepada kepentingan ekonomi
atau memenuhi kewajiban moral.Kondisi ini diperparah dengan adanya konglomerasi
pemilikan media oleh segelintir orang.
Kasus
Lapindo Untuk Kepentingan Politik
Tiga contoh stasiun televisi diatas
adalah salah satu bentuk pembingkaian berita yang di bingkai oleh dua media
televisi yang mempunyai pemberitaan dengan suatu peristiwa yang sama tetapi
berbeda penyajian dan cara mengkonstruksi beritanya. Hal itu dikarenakan adanya
pengaruh internal yang ada didalam perusahaan salah satunya adalah perang politik yang terjadi
diantara pemilik modal atau pengusasa media itu sendirisehingga
berita yang akan diterbitkan kepada masyarakat tidak merugikan internal
perusahaan serta dapat
mengangkat citra atau bahkan dapat menjatuhkan lawan politiknya karena kondisi
kepemilikan yang dimiliki oleh seorang konglomerat yang berpartisipasi dalam
sebuah partai politik.
Dari
contoh pemberitaan tersebut sangat kental nuansa kepentingan politik.Media
digunakan sebagai alat propaganda untuk tujuan politik menuju pemilihan
presiden 2014.Dalam kasus pemberitaan Lapindo,
Aburizal Bakrie dengan cara yang sistematis mencoba mengubah persepsi publik
tentang kasus lumpur Lapindo. Melalui Group Viva yang membawahi ANTv, TV One
dan Portal Berita Viva News, pemberitaan tentang Kasus Lapindo diarahkan ke
hal-hal yang menguntungkan Aburizal Bakrie. Ada upaya mengalihkan isu bahwa
Lumpur Lapindo bukanlah kesalahan pengeboran, tetapi akibat dari gempa bumi
Jogja.Dalam upaya “cuci tangan” media milik Bakrie tidak mau menggunakan
istilah Lumpur Lapindo tetapi Lumpur Sidoharjo.
Di sisi lain, serangan terhadap
Aburizal Bakrie juga dilakukan oleh media massa. Media yang paling getol
memberitakan kasus Lapindo adalah Media Group yang membawahi Media Indonesia
dan Metro Tv.Media ini adalah milik Surya Paloh yang merupakan seteru
Aburizal Bakrie ketika memperebutkan kursi Ketua Umum Golkar tahun 2009.
Pertarungan kepentingan dalam kasus
Lapindo dengan memanfaatkan media ini menarik untuk dikaji. Terlebih, Aburizal
Bakrie adalah tokoh politik yang mempunyai kansbesar untuk mencalonkan
diri menjadi calon presiden pada pemilu 2014. Banyak pihak yang tidak suka
terhadap Abu Rizal Bakrie menyerang dengan Kasus Lumpur Lapindo.Abu Rizal
Bakrie yang memiliki media berusaha mengcounter dan memoles citranya agar
terlihat baik dalam kasus Lapindo.
Dengan menguasai dua media televisi
seperti ANTV dan TVOne, Bakrie
dapat melakukan pengontrolan terhadap framing
pemberitaan di kedua media tersebut.Bakrie juga merupakan politisi partai Golkar
yang akan mencalonkan diri dalam pemilihan presiden 2014. Maka, berita – berita
yang dikeluarkan oleh media – media yang dikuasainya cenderung positif sebagai
media pencitraan dirinya.
Hal ini berbanding terbalik dengan
pemberitaan di Metro TV, yang menayangkan pemberitaan yang negative seputar
Lumpur Lapindo dan Bakrie
sebagai pemilik
modal.Seolah – olah hal tersebut adalah kesalahan fatal dari PT.
Lapindo Brantas.Hal ini juga terkait dengan kepemilikan Metro TV oleh Surya
Paloh yang merupakan saingan politik Bakrie.
Pembingkaian
(Framing) yang dilakukan media membuat suatu berita dapat terus menerus
ditayangkan di media sehingga muncul sebagai agenda publik. Kekuatan media
massa untuk mengatur kapan pemegang kepentingan politik “naik panggung” dan
“turun panggung” secara eksplisit menunjukkan bagaimana kuatnya media sebagai
pembentuk opini publik.Pembingkaian adalah proses seleksi dari berbagai aspek
realitas sehingga bagian tertentu dari peristiwa itu lebih menonjol
dibandingkan aspek lain.[8]
Individual frame yang muncul dari media
framing akan berperan untuk mempengaruhi penilaian (persepsi) terhadap
peristiwa tentang Lumpur Lapindo serta dari aktor – aktor politik seperti
Aburizal Bakrie dan Surya Paloh. Dan dari pemberitaan dari tiga media yang
berbeda tersebut juga akan mempengaruhi minat atau keinginan khalayak dalam
mengambil tindakan politik dan berpartisipasi dalam kegiatan politik berkaitan
dengan keduanya (Aburizal Bakrie & Surya Paloh) sebagai aktor politik yang
cukup ternama di mata khalayak. Tidak menutup kemungkinan bahwa semua
pemberitaan dan pencitraan yang dilakukan oleh keduanya akan mempengaruhi
penilaian masyarakat dalam pesta politik di Indonesia. Dengan kata lain, media framingoleh wartawan dari ketiga
media yaitu ANTV, TVOne, dan Metro TV akan memunculkan sebuah individual frame yang berpengaruh dengan
penilaian masyarakat berkaitan dengan masalah tentang Lumpur Lapindo, tentang
Aburizal Bakrie dan Surya Paloh yang bisa dibilang sebagai pemilik media
tersebut, keinginan masyarakat dalam mengambil keputusan politik dan minat
masyarakat untuk berpartisipasi dalam politik mengingat kedua tokoh tersebut
berasal dari partai politik yang berbeda.
Opini publik sangat berpengaruh pada pilihan politik mayoritas dimana opini
tersebut dikendalikan oleh bagaimana media massa mengemas agenda-agenda politik
yang ingin diraih suatu kelompok.Jika
penyebab yang ditetapkan adalah kesalahan prosedur maka opini publik akan
dengan mudah terbentuk dan mengarah pada rendahnya kredibilitas
perusahaan-perusahaan dibawah grup Bakrie. Dan ini akan berpengaruh secara
signifikans terhadap kredibilitas Abu Rizal serta partai Golkar secara
keseluruhan. Sebaliknya jika penyebab yang ditetapkan ialah bencana alam. Maka
publik dengan lebih mudah digiring pada satu penyebab yang bersifat ketidakpastian.
Termasuk skema penyelesaian ganti rugi.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Dari pembahasan
diatas bisa disimpulkan bahwa metode analisis framing
dapat diartikan sebagai suatu metode untuk memahami bagaimana realitas
dibingkai oleh media, framing
merupakan strategi konstruksi dan simplifikasi realitas sedemikian rupa untuk
ditampilkan kepada pembaca. Bisa dicontohkan bahwa di stasiun televisi metro tv
pemberitaan tentang lumpur lapindo memang ditekankan bahwa musibah itu terjadi
karena kesalahan PT Lapindo, berbeda dengan pemberitaan ANTV dan TV One yang
seoalah-olah selalu menutupi berita tersebut. Dari situ bisa terlihat jelas
bahwa stasiun televisi ANTV dan TV One
melakukan framing atau pembingkaian berita yang berbeda dalam kasus yang
sama. Berita di ANTV dan TV One tentang lumpur lapindo cenderung kearah
posistif dan seakan-akan tidak menyalahkan
PT Lapindo yang Anak perusahaan Bakrie group milik ARB yang juga pemilik
stasiun televisi ini. Sangat terbalik dengan pemberitaan di Metro TV
yang memberitakan lebih kearah negative yang menyalahkan PT Lapindo tentang
peristiwa ini.
Dari contoh tersebut bisa
diketahui bahwa media Framing
digunakan oleh dua aktor politik Abu rizal bakrie dan Surya Paloh untuk
menciptakan pencitraan kepentingan politiknya. Pencitraan diharapkan dapat
mempengaruhi minat dan keinginan khalayak dalam melakukan partisipasi politik
yang berkaitan dengan kedua tokoh politik tersebut.
B.
Saran
Setelah mengerti
dan mendalami metode analisis framing diharapkan kita lebih bisa mengerti dan
memahami apa yang diberitakan oleh media. Kita dapat mengerti mana pemberitaan
yang memang benar-benar sesuai dengan realitas yang ada dimasyarakat dan mana
pemberitaan yang bermuatan kepentingan, entah itu kepentingan politik atau
kepentingan pencitraan dari pemilik media tersebut.
Dalam perspektif komunikasi politik, sebenarnya kita dapat mengetahui
bahayanya media penyiaran dikuasai oleh para politisi diantaranya dengan
analisis framing. Karenanya, berita menjadi manipulatif dan bertujuan untuk
menguntungkan si pemilik modal yang juga pengurus partai politik.
DAFTAR PUSTAKA
Dharma,
Agus. 1987.Teori Komunikasi Massa. Jakarta: Erlangga.
F. Verdeberber, Rudolph
dan Kathleen S. Verdeberber, Communicate, Iinternational Studen Edition. USA: Thomson Wadsworth.
Griffin, EM. A
First Look At Communication Theory 5th Edition. Mc Grow.
Pawito. 2009. Komunikasi Politik Media Massa dan Kampanye
Pemilihan. Yogyakarta: Jalasutra.
R. Bergerr, Charless
dan Steven H. Chaffee. 1989.
The Study of Communication as a Sciencedalam Charless R. Bergerr
dan Steven H. Chaffee, Handbook of Communication Science. London: Sage Publication
Sobur, Alex. 2006. Analisis Teks Media : Suatu
Pengantar untuk Analisis Wacana, Analisis Semiotik dan Analisis Framing.Bandung: PT.
Remaja Rosdakarya
[1] Alex Sobur, 2006, Analiss Teks Media :suatu
pengantar untuk analisis wacana, analisis semiotik dan analisis framing, (Bandung : PT Remaja Rosadakarya), hlm. 164
[2]Charless
R. Bergerr dan Steven H. Chaffee “The Study of Communication as a Science”
dalam Charless R. Bergerr dan Steven H. Chaffee, “Handbook of Communication
Science”, Sage Publications, London, Edisi II 1989, hlm 17.
[3]Rudolph
F. Verdeberber dan Kathleen S. Verdeberber, Communicate, international
Studen Edition, Thomson Wadsworth, USA, hlm 2.
[4] Pawito, Ph.D., 2009, Komunikasi Politik : Media Massa dan
Kampanye Pemilihan, (Yogyakarta : JALASUTRA) hlm. 50-51
[6]Griffin,
EM, “A First Look At Communication Theory” 5th
Edition, Mc Grow
[7]McQuil,
Denis, Teori Komunikasi Massa, Agus
Dharma (terj.), Erlangga; Jakarta, 1987,hlm. 40.
[8]Robert
M. Entman.Projections of Power: Framing News, Public Opinion, and U.S.
Foreign Policy. Chicago: University of Chicago Press hal. 5
0 Response to "Metode Analisis Framing"
Post a Comment